Balada Ketinggalan Pesawat

And now I really have a story to tell….

Hari ini timehop menampilkan status Facebook yang saya tulis lima tahun yang lalu untuk menghibur diri. Ada apa loh? Jadi, hari ini lima tahun yang lalu, saya dan sahabat saya sejak SD, Yola, pergi ke bandara menggunakan jasa taksi putih yang cukup terkenal namanya, sebut saja Express #eh. Siang itu sekitar pukul 14:00, kami bisa dibilang sangat mengejar waktu penerbangan tujuan Singapura dengan jadwal take off pukul 16:20. Mepet memang memutuskan baru berangkat jam 14:00 WIB, namun apa daya memang ada urusan penting yang harus kami selesaikan sebelum bertolak ke bandara. Sebenarnya agenda penting kami bertempat di Kuala Lumpur keesokan harinya. Namun karena ada penawaran tiket murah pp ke Singapura dan ingin mampir dulu ke sana barang semalam, kami memutuskan mengambil flight tujuan Singapura dan bertolak ke Kuala Lumpur keesokan paginya dengan menggunakan bus antar negara.

Siang itu, rupanya kami ditakdirkan memiliki cerita yang tidak biasa. Bapak supir taksi yang kami tumpangi entah kenapa terlalu inisiatif, ketika sudah tinggal lurussss saja ke arah tol JORR, si bapak malah keukeuh belok ke arah pancoran tanpa menanyakan terlebih dahulu preferensi kami. “Lebih dekat, sehingga akan lebih cepat.” begitu kata si bapak supir, yang kami sambut dengan keraguan luar biasa. Memang lebih pendek jaraknya, tapi kan sudah notorious juga macetnya 😦 . Padahal di awal kami sudah menjelaskan bahwa kami sedang mengejar penerbangan pukul 16:20. Usaha untuk mencegah si bapak berpindah haluan terlambat sudah. Taksi sudah berbelok ke arah pancoran yang kami perkirakan akan padat merayap. Kami sempat menanyakan hal ini dengan nada protes, tentu. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Hiks.

Continue reading

Sepertemanan Jalanan

Look, I got a love letter! xD

Hari ke-28 by @etikwahyu

etikwahyu berceloteh

Tak terasa gelaran menulis surat cinta selama tiga puluh hari ini akan usai, dan belum ada satu pun surat yang aku tujukan untuk seorang sahabat yang diam-diam membaca beberapa postinganku dalam gelaran ini, karena kita sama-sama pakai WordPress. Kali ini surat ini tertuju jelas buatmu, Mbak Rina. Hehehe…

Buat Mbak Rina, si Teman Jalan,

Ahahahahhaaa… Rasanya ingin tertawa dulu kalau mengingat ini surat ditujukan buat kamu. Duh, pakai “kamu” segala sapaannya. Biasanya manggil dengan sapaan “elo” dan “gue”, tetapi tak apa lah, demi kaidah Bahasa Indonesia yang lebih sopan. Ini antara malu dan sungkan dan apa lagi lah itu. Hehehe… Jadi ingat bahwa sebenarnya aku punya hutang untuk menuliskan cerita perjalanan dinas ke Singapura dan Malaysia tahun lalu. Kamu sudah melakukannya di blogmu, lengkap dengan foto dan video yang berhasil didapatkan. Sedangkan aku masih saja tulisannya berhenti di folder draft dan tak tahu kapan akan diselesaikan. Maaf, idenya sudah buyar…

View original post 541 more words

Review Rendang Uda Gembul

Beberapa hari yang lalu ketika sedang berselancar di timeline Twitter, saya melihat retweet tentang produk rendang siap saji dalam kemasan yang merknya cukup unyu yakni “Uda Gembul”. Saya yang memang penggemar masakan Padang walaupun 100% keturunan Jawa ini pun langsung tertarik dan browsing lebih lanjut mengenai rendang ini.

Testimoni yang beredar tentang rendang Uda Gembul ini positif, katanya rasanya enak dan praktis kalau dibawa travelling. Wow. Saya pun semakin tertarik. Iya juga ya, kan enak kalau bepergian bawa rendang siap saji yang dikemas rapi dan higienis sehingga tahan berbulan-bulan di suhu ruang meski tanpa pengawet. Lebih kecenya lagi, Rendang Uda Gembul adalah rendang dengan 5 Level Pedas Sensasional, yang akan bikin Panas! Puas! Ketagihan sampai Lemas…. (Beneran, memang begitu taglinenya. Kalau ngga percaya bisa cek di sini) Level yang tersedia dalah level 0, 1, 3, 5, dan 10. Karena beberapa waktu lalu perut saya sempat unjuk rasa, saya tertarik untuk mencoba rendang sapi dengan level pedas yang sedang menjurus tidak pedas, level 1.

uda gembul

Ini nih penampakannya di iklan yang bikin saya tergoda. | Picture taken from: www.rendangudagembul.com

Sudah jatuh hati saya pun browsing lagi di mana bisa membeli produk ini. Rendang ini bisa dibeli melalui websitenya di www.rendangudagembul.com, bisa juga cek di www.udagembul.com (entah apa bedanya, haha) atau di mall online seperti Tokopedia dan Bhinekka. Pilihan saya pun jatuh pada Bhinneka karena harganya paling murah, yakni Rp27.500, hihihi pelit, ya? Bukan, saya anaknya hemat, kak. Hehe. Saya pilih pengiriman via TIKI, ongkos kirimnya sebesar Rp7.500. Setelah dikurangi kode unik dari Bhinneka, total belanja saya Rp34,981. Unik, loh ya Bhinneka ini. Biasanya pembayaran ditambah kode unik, ini malah dikurangi.

Long story short, alkisah saya lupa tidak cek dulu stok produk yang saya pesan lewat Bhinekka. Saya baca beberapa review pembeli yang pernah belanja di Bhinneka, dan ada salah seorang pembeli yang sudah menunggu berhari-hari akhirnya dikabari kalau stok barang kosong. Jegerrr.. Khawatir mengalami hal yang sama, saya pun menghubungi customer service Bhinneka untuk menanyakan apakah bisa dibantu  untuk cek stok item yang saya pesan, dan jawabannya sungguh bikin galau. Kata customer service, untuk stok tergantung merchant yang bersangkutan, yakni Uda Gembul. Dengan kata lain masih belum terjawab misteri stok Rendang Uda Gembul yang saya inginkan. Huhuhu.

Mungkin karena ngidam saking kepinginnya dan belum mendapatkan follow up dari Bhinneka, hari Kamis yang lalu, saya order lagi Rendang Uda Gembul di salah satu toko online di mall online favorit saya, Tokopedia. Saya suka belanja di Tokopedia karena ada fitur diskusi di mana calon pembeli bisa menanyakan hal-hal seputar produk yang ditawarkan, terutama ketersediaan produk. Setelah sortir pencarian berdasarkan review yang terbaik, saya menemukan memutuskan membeli Rendang Uda Gembul di sini karena review pembelian sebelumnya cukup bagus dan harganya juga lumayan murah, yakni Rp29.500 (Pssst… testimoni saya shop ini pelayanannya memang bagus. Fast response, dan pengirimannya juga cepat). Harganya memang sedikit lebih mahal daripada yang dijual di Bhinneka (mungkin karena yang ini merchant-nya reseller), tapi opsi pengirimannya bisa menggunakan jasa pengiriman Wahana yang ongkirnya hanya Rp5.000 saja! Murah, kan?

Daaaan.. di hari Jum’at ketika pulang dari kantor saya mendapati ada dua buah paket yang ditujukan untuk saya. Satu dari Uda Gembul, satu lagi dari salah satu shop di Tokopedia. Isinya? Hahaha. Tentu saja Rendang Uda Gembul dua-duanya. Ternyata rendang yang saya pesan dari Bhinneka juga sampai di hari yang sama dengan rendang yang saya pesan di Tokopedia. *prokprokprok* ternyata pelayanan Bhinneka dan Uda Gembul oke juga, meskipun saya tidak mendapatkan email berisi nomor resi pengiriman seperti yang dijanjikan pihak Bhinneka. Wajar dong, kalau saya kira stok produknya kosong *halah—pembenaran*. Dan…. buah dari ketidaksabaran saya adalah dua bungkus rendang. Hahaha. Tapi tidak apa-apa, malah seneng, kan saya jadi punya lebih banyak persediaan makanan untuk hibernasi #eh…

Unpacking Rendang Uda Gembul

IMG_20160227_134317[1]

Ini penampakan kedua Rendang Uda Gembul yang saya beli. Identik kok. Hanya tanggal kedaluwarsanya saja yang berbeda, selisih satu bulan saja. Kemasan luarnya terbuat dari karton berukuran 19cm×9cm×4cm (just in case ada yang penasaran, “Itu gedenya seberapa, sih rendangnya?”). Pada kemasan dicantumkan tanggal kedaluwarsa, komposisi, saran penyajian, dan keterangan bahwa rendang ini tahan hingga 9 bulan di suhu ruang, serta tak lupa akun sosial media yang dipakai oleh Uda Gembul untuk berpromosi. Hehehe

IMG_20160227_134833[1]

Beginilah tampilan dalam kemasan Rendang Uda Gembul. Dari yang saya baca di website Uda Gembul, rendangnya dikemas dengan plastik vacuum kedap udara dan melalui proses sterilisasi dengan UHT sehingga produk akan tahan lebih lama, bisa sampai 9 bulan apabila disimpan dalam suhu kamar 25 c. “Rendang dibungkus plastik food grade, kemudian udara di dalamnya divakum. Setelah itu dipanaskan dengan uap lebih dari 80 derajat celcius, lalu langsung didinginkan dengan uap beku,” begitu Uda Gembul menambahkan—masih dikutip dari www.rendangudagembul.com.

Segera saya pun masak nasi putih demi memuaskan rasa ingin mencicipi rendang yang sudah saya idam-idamkan sejak beberapa hari yang lalu ini. Setelah nasi putih nan pulen matang, ditambah dengan sayur daun singkong, saya pun mencicipi rendang si Uda Gembul. Rasanya? Mashitaaaaaaaaaa—kalau kata orang Korea yang sering saya tonton di drama. Enak! Beneran! Bumbu rempahnya berasa. Wanginya juga khas. Duh, saya nggak nyesel deh coba-coba rendang ini. Langsung bercita-cita nanti kalau travelling mau bekel rendang ini aja. Praktis, enak, dan harganya affordable lah kalau rasanya enak begini.

rend

Picture taken from: www.udagembul.com (Maaf saya lupa foto rendang yang saya makan. Keburu laper, hehehe. Tapi penampakannya mirip, kok.)

Dalam satu kemasan ada dua potong daging rendang yang ukurannya tidak besar banget, tapi juga tidak kecil kok. Tapi bumbu rendangnya melimpah. Puas deh saya. Kalau untuk saya, satu bungkus rendang sepertinya bisa untuk empat kali makan. (Saya tipe yang makannya sedikit lauk dan banyak nasi dan sayur, sih, hehehe) Setelah kemasan dibuka disimpan saja kemasan dan sisa rendang ke dalam kotak makan kedap udara, simpan di kulkas. Nanti bisa dihangatkan lagi dengan microwave. Atau kalau anda anak kosan seperti saya, bisa numpang angetin di dalam magic com. Tinggal masukkan rendang bersama dengan plastik kemasannya. Aman kok, kan plastiknya food grade. Di saran penyajian memang dicantumkan bahwa rendang dapat langsung dimakan atau dipanaskan dengan cara direbus bersama plastik kemasan selama 3 menit.

Demikian review Rendang Uda Gembul. Postingan ini murni pengalaman saya pribadi dan bukan postingan berbayar. Hehehe. Gimana? Ikutan tertarik mencoba Rendang Uda Gembul juga, nggak?

So called birthday…-ugh, what a late post.

Note: post ini akhirnya di-published pada hari ini, Rabu, 17 Februari 2016 setelah sebulan lebih nyangkut di draft karena————– saya lupa *ahem*.


So, today I got this:

AiWnQAf77oDfTvMd8rtIg-Mh9bKwjguGZebPDmWagzea

11 Januari 2016, (hayo, siapa yang diam-diam nyanyi lagunya Gigi kalau mendengar tanggal ini) hari ini umur saya berkurang tapi angkanya bertambah. Ini ulang tahun yang ke-delapan belas─tapi bohong karena pasti saya akan diamuk massa kalau berani-beraninya ngaku masih remaja. Hehehe.

I can’t say that I’m still young, because in fact, I’m past those ages that I consider as young and wild period. (?) But I am young at heart. I am feeling happy and content. And I’m so grateful to be here, with all I’ve got. I still need to learn a lot though, and work harder than yesterday.

Angka yang menunjukkan usia saya di tahun ini seakan dipatri dalam ukuran besar dengan font bold di depan mata. Mengisyaratkan dengan tegas bahwa banyak yang harus saya kejar. Bukan masanya lagi menjalani hari-hari dengan motto happy-go-lucky.( Yaahh. Yaaaah. Kok gitu? *digetok*)

Kejutan manis dari teman-teman di atas lumayan memberikan energi tersendiri pagi ini. Hehe. Makasih loh ya untuk effortnya. *peluk satu-satu* Makasih ya mbrohe Yola, Tia, Irga, Acha, Fitri, Indhit, Nadhil, Etik, Nurfah, Ichu, Umu, Icem, Elsa dan dua bayi lucu kesayangan yang dilibatkan dalam project ini, the handsome baby boy, Alfatih dan Azka the cool baby girl. Yang bikin saya agak terharu biru *halah* adalah karena teman-teman yang fotonya mejeng di atas sebenarnya tidak berasal dari satu circle friend saja. Bisaan banget sih mengumpulkan massa. Pada disogok apa coba? Good job untuk Mbak mastermind of the plan dan semua teman-teman yang sudah berbaik hati meluangkan waktu buat foto-foto cantik.

You guys made my day.

:*